Wednesday, December 07, 2005

ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN

EPISODE 1 :

Saat Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yang
kemudian menjadi tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihat
yang taat dan selalu tersenyum manis. Pendeknya, ingin memberikan
yang terbaik bagi suaminya kelak sebagai jalan pintas menuju surga.

Tekad itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai 'tabligh', ceramah,
dan seminar keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkan
banyak pula ayat Al-Qur'an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itu
telah dihafalnya, seperti "Ar Rijalu qowwamuna alan nisaa'...","Faso-
lihatu qonitatu hafizhotu lilghoibi bima hafizhallah..." (QS. An-Nisa
ayat 34). Juga Hadits :"Ad dunya mata', wa khoiru mata'iha al mar'atus
sholihat." (dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah
isteri sholihat). Atau, hadits "Wanita sholihat adalah yang menyenangkan
bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan
padanya. Begitu pula hadits "Jika seorang isteri sholat lima waktu,
shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya
dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, maka ia boleh masuk surga
lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad dan Thabrani). Hadits yang berat
dan seram pun dihafalnya, "Jika manusia boleh menyembah manusia lainnya,
maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi,
Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Figur isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona'ah seperti Kha-
dijah r.a. benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas ingin
ditirunya. Maka, tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodoh
seorang Muslim yang sholih, 'alim dan berkomitmen penuh pada Islam,
Fulanah pun melangkah ke gerbang pernikahan dengan mantap. Begitu khidmat
dan khusyu karena kesadaran penuh untuk beribadah dan menjadikan jihad
dan syahid sebagai tujuan hidup berumah tangga.


EPISODE 2

Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, ber-
angan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan
seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata. Alangkah
bahagianya menjadi seorang suami dan seorang "qowwam" yang "qooimin
bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi" (tegak atas dirinya dan mampu
menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-anaknya). Juga menjadi
'imam yang adil' yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak-
anaknya.

Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganya
lahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanah
Allah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT.
Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma'ruf (QS An-Nisa:19)
dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajiban
seorang suami. "Hanya laki-laki mulialah yang memuliakan wanita."
"Yang paling baik di antara kamu, wahai mu'min, adalah yang paling
baik perlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang
paling baik perlakuannya terhadap isteri-isteriku." "Wanita seperti
tulang rusuk manakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala
diluruskan secara paksa ia akan patah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang dan
lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankan
beban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dan
sekali-sekali turun ke dapur seperti ucapan Rasulullah kepada Bilal :
"Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur."
Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main dengan isteri seperti
berlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginan
meniru hal itu serta menyapa isteri dengan panggilan lembut 'Dik' atau
'Yang'.

EPISODE-EPISODE SELANJUTNYA

Fulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan
yang serasi karena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan
Islam.

Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terus
membara, kin banyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat,
karakter, pembawaan, selera, dan kegemaran serta perbedaan latar
belakang keluarga yang semula mudah terjembatani oleh kesatuan iman,
cita-cita, dan komitmen ternyata lambat laun menjadi bahan-bahan
perselisihan. Pertengkaran memang bumbunya perkawinan, tetapi manakala
bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanya menjadi tajam dan
tak enak lagi.

Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapan
dan kenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui
ternyata pendek dan singkat saja. Cukup banyak onak dan duri siap
menghadang. Sehabis meneguk madu, ternyata 'brotowali' yang pahitpun
harus diteguk. Berbagai masalah kehidupan dalam perkawinan harus
dihadapi secara realistis oleh pasangan mujahid dan mujahidah sekalipun.
Allah tak akan begitu saja menurunkan malaikat-malaikat untuk menyelesai-
kan setiap konflik yang dihadapi. "Innallaha laa yughoyyiru ma biqoumi
hatta yughoyyiru maa bi anfusihim" (QS Ar-Raad : 6).

Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jika
marah atau menegur, terdengar begitu 'nyelekit'. Ada pula suami yang
mengeluh karena dominasi ibu mertua terlalu besar. Perselisihan dapat
timbul karena perbedaan gaya bicara, pola asuh, dan latar belakang
keluarganya. Kejengkelan juga mulai timbul karena ternyata suami
bersikap 'cuek', tidak mau tahu kerepotan rumah tangga, karena berang-
gapan "itu khan memang tugas isteri." Sebaliknya, ada suami yang kesal
karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusan rumah tangga,
maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi 'kutu buku' saja.

Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-"qonaah" yang
diduganya, bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang
bersyukur. Fulanah sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit
bahkan cenderung kikir, padahal kebutuhan rumah tangga dan anak-anak
terus meningkat.

Seorang sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerima
keadaan keluargan. Sebab musababnya sih karena perbedaan status
sosial, ekonomi dan adat istiadat. Kekesalannya bertambah-tambah
karena dilihatnya sang isteri malas meningkatkan kemampuan intelek-
tual, manajemen rumah tangga, serta kiat-kiat mendidik anak. Sebaliknya,
sang isteri menuduh suaminya sebagai "anak mama" yang kurang mandiri dan
tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dan anak-anaknya. Belum
lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasangan muda yang masih tinggal
menumpang di rumah orang tua. Atau di dalam rumah mereka ikut tinggal
kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensial mengundang
konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.

Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da'wah keluar rumah terlalu
berlebihan. Tidak "tawazun". Hal ini dapat menyebabkan seorang suami
mengeluh karena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg-
abreg dan mengurus anak-anak. Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu
banyak menceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya pada
suaminya. Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa
melihat kebaikan dan kelebihan suaminya.

Ada suami yang begitu "kikir" dalam memuji, kurang "sense of humor" dan
"sedikit" berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yang
dilihatnya, disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan
segera diutarakannya. Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki
problem "hubungan intim suami-isteri". Mereka merasa tabu untuk membica-
rakannya secara terus terang di antara mereka berdua. Padahal akibatnya
menghilangkan kesakinahan rumah tangga.

Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang terjadi
di antara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebih panjang
lagi. Memang, persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tangga
tidak pasti akan berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah
dan cita-cita menegakkan Islam. Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs tetap
manusia-manusia biasa yang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas dari
kekurangan-kekurangan. Dan mereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman.

Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebih punya
kemampuan menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perlu
berharap muluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena,
ternyata kita pun belum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim
dan Muslimah hendaknya kita sadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri
atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat. Maka kita pun
tentunya tidak perlu menuntut kesempurnaan dari suami atau isteri kita.

"Just the way you are" lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya,
lengkap dengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar'i) dan
kelebihannya. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebia-
saan, dan karakter yang berbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita-
cita kita sama. Pada saat ghirah tinggi, iman dalam kondisi puncak,
"Prima", semua perbedaan seolah sirna. Namun pada saat "ghirah" turun,
iman menurun, semua perbedaan itu menyembul ke permukaan, mengganjal,
mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidak terwujud sakinah.

Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelah
berdoa memohon pertolongan Allah SWT dan mau ber "muhasabah" (introspeksi),
adalah mengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami-
isteri. Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern
dulu di antara suami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. "Uneg-
uneg" yang ada secara fair dan bijak diungkapkan.

Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakui
kesalahan dan meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera mau memaafkan
dan tidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak
mengadu ke orang tua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membe-
berkan aib dan kekurangan suami atau isteri. Hal lain yang perlu diper-
hatikan adalah tidak membandingk-bandingkan suami atau isteri dengan
orang lain, karena itu akan menyakitkan pasangan hidup kita. Setelah itu,
masing-masing juga perlu 'waspada' agar tidak terbiasa kikir pujian dan
royal celaan.

Jika terpaksa, kadnag-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga
(tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untuk
membantu melihat permasalahan secara lebih jernih. Kadang-kadang
"kacamata" yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikan
pasangan hidup kita menjadi tidak terlihat, bahkan yang terlihat
keburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisa
membantu menggosok 'kacamata' yang buram itu. Alhamdulillah ada yang
tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflik terselesaikan
mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja ! Layaknya !

Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada Allah SWT,
InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaan rumah
tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahid sebagai
tujuan kita berumah tangga. Amiin yaa Robbal'aalamiin.

Wallahu a'lam bishowab.

Wassalamu'alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuhu

* tulisan dari Ummu Samy Romadhon di majalah Ummi No. 6/V, 1414 H/1993*

0 Comments:

Post a Comment

<< Home